Ir. Soekarno, B.J. Habibie, dan Tri Rismaharini

Ir. Soekarno, B.J. Habibie, dan Tri Rismaharini

 

Banyak opini yang meyakini bahwa apa yang sebenarnya terjadi hanyalah skenario politik semata yang menguntungkan pihak A dan merugikan pihak B mengingat tahun ini adalah tahun politik untuk negeri kita Indonesia. Ada pula opini yang menyatakan bahwa ini hanyalah sekedar “checksound” yang dilakukan oleh Tri Rismaharini untuk memastikan nilai bargaining power yang dimilikinya terhadap partai pengusungnya. Untuk masalah-masalah ini saya sedikit lebih peduli karena politik bagaimanapun juga akan mempengaruhi hidup kita, saya ingatkan anda semua bahwa “hanya karena anda tidak memiliki kepentingan terhadap politik bukan berarti politik tidak memiliki kepentingan terhadap diri anda”.

Jika kita mau menengok sejarah maka Indonesia pernah 2 kali merasakan dipimpin oleh seorang teknokrat. Pertama Ir. Soekarno, dan kedua B.J. Habibie. Tentu keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun yang pasti keduanya sama-sama dirindukan oleh masyarakat Indonesia dan keduanya sama-sama lengser karenakisruh politik. Kemudian yang bisa dilakukan oleh rakyat biasa hanyalah berandai-andai seperti apa Negara kita jadinya bila dipimpin oleh beliau-beliau ini sedikit lebih lama. Lalu sudikah kawan-kawan untuk membiarkan Ibu Risma mengalami nasib yang serupa? Apakah kalian masih ingin menjadi rakyat biasa yang di akhir cerita hanya berandai-andai “seperti apa jadinya Surabaya bila dipimpin sedikit lebih lama oleh Ibu Risma?” (Bila kemudian benar-benar terjadi Ibu Risma mundur). Ataukah kalian akan mengambil langkah sekarang untuk terjun dan sedikit lebih memahami politik? Saya harap anda dapat sedikit lebih peduli.

Harapan terkadang tidak sesuai keadaan. moment ini nampaknya tidak menjadi trigger bagi kawan-kawan di kampus untuk beramai-ramai mulai terjun dan minimal mulai mengenal dunia politik. Banyak teman-teman yang mulai tergerak, namun lebih banyak yang justru malah semakin malas dan skeptis terhadap hal yang bernama “politik” ini. Alasannya bermacam-macam namun intinya semua alasan itu mengarah pada satu hal bahwa Indonesia perlu orang yang “bekerja” bukan “berpolitik”. Saya sepakat akan hal tersebut, tapi masalahnya apakah mungkin bagi kita kaum engineer untuk bekerja tanpa adanya “political will” yang baik dari pemerintah? Mungkin benar Indonesia memerlukan seorang yang “bekerja”, orang yang memiliki pendekatan praktis untuk menyelesaikan masalah. Namun begitu pemerintahan akan selalu tetap melibatkan politik di dalamnya dan hanya orang yang memahami politik lah yang mampu mencapai puncak dan mampu bertahan. Singkatnya Indonesia perlu seorang engineer yang mampu berpolitik, kita perlu seorang teknokrat.

Permasalahannya bagaimana mungkin Indonesia akan dipimpin oleh seorang teknokrat bila semua calon engineernya enggan terjun ke dunia politik? Oleh karena itu ITS sebagai salah satu institusi pencetak engineer yang terbesar, dan terbaik di Indonesia maka sudah sewajarnya berkewajiban untuk melahirkan engineer-engineer yang handal. Tidak hanya handal “bekerja” namun juga handal “berpolitik” dan kitalah yang berkewajiban untuk mengisi garda terdepan dalam proses panjang perjuangan tersebut. Untuk mewujudkan Surabaya yang lebih baik, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

One Response

Comments are closed.