Mahasiswa, antara Toga dan Dinamika

Oleh: Sam Pangestu

Mahasiswa,  antara Toga dan Dinamika.

Mahasiswa , dewanya siswa. Sekumpulan orang bebas yang ‘berjudi’ baik di rumah sendiri atau di tanah orang sekalipun. Berjudi demi mendapat gelar bernama sarjana. Aku, kamu ataupun kalian yang mengemban status ini pasti tau apa itu arti berjuang dalam rasa muak demi sebuah pertanggung jawaban saat kita mohon ijin dilepas dari rumah untuk sebuah IPK.

Kita yang sedang duduk di ruangan berbagai dimensi dan disubsidi hanyalah sekumpulan anak muda bersenjatakan idealisme yang belum benar benar matang. Kita patut berbangga karena kita berani, sedikit lebih berani meninggalkan rumah, teman, bahkan orang tercinta. Baik itu hanya berjarak satu meter ataupun ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Mahasiswa seyogyanya adalah perpanjangan tangan kedua orang tuanya. Tugasnya tidak lebih sebagai anak yang berbakti kepada ibu pertiwi. Mampu mengubah hal yang jelek menjadi baik .

Oleh publik kita dianggap sebagai penerus , oleh diri sendiri mungkin kita hanya sedang berkreasi atau hanya berfantasi. Mengumpulkan bahan mana yang akan dimasak dan disajikan dengan nikmat kepada bangsa. Jadi mahasiswa itu beban. Beban tidak selamanya buruk, karena tanpa beban kamu tidak akan pernah bisa mengukur dengan pas berapa satu kilo itu. Beban itu memberikan kita nilai dan harga. Harga? Tidak akan bisa dirupiahkan, didolarkan atau apapun itu. Ini hanya soal nilai apa yang sudah kita dapat dan berapa yg bisa kita berikan. Ini bukan soal berapa banyak uang yang dikeluarkan sampai kita memakai toga, ini lebih kepada bagaimana cara kita membeli mulut mulut yang dulu menertawakan kita.

Sudah berapa banyak air mata yang terkucur lewat doa orang orang tercinta demi kesuksesan kita?. Sudah merasa berterima kasihkah kita sebagai mahasiswa? .Mahasiswa itu punya prinsip, namun terkadang tolol. Mengapa? Saat tuhan memanggil kadang kita terlalu sibuk dengan tugas . Saat orangtua memanggil kita terlalu sibuk dengan panggilan senior ataupun junior. Miris juga sebenarnya karena berdasarkan hukum alam yang ada kita ini adalah generasi yang terdidik. Jika mahasiswa itu adalah panggilan hati maka balaslah subsidi rakyat dengan prestasi bukan dengan arogansi. Aku sendiri memaknai mahasiswa sebagai pencari jatidiri dalam konteks yang lebih luas. Ya, akulah pencari masa depan yang kadang tidak tau berterimakasih karena tidak kubalas subsidi dengan prestasi. Kita adalah orang yang bebas. Ditakutkan kata bebas mengalami mistranslasi . Ketika kita selalu memekikkan 1998 atau kita mengalami sindrome revolusi. Bebas yang kita dapatkan artinya menjadi bebas yang justru mengurangi sisi humanis manusia. Dengan menjadi seseorang yang selalu mulu menutup telinga ketika mendengar kata dari orang lain.

Terlepas dari itu semua, itu hanyalah opini . Yang bisa lebih memaknai arti mahasiswa yang hakiki adalah diri kita masing masing yang sedang atau sudah pernah merasakan posisi ini. Jika hidup ini adalah perjudian, maka aku rela memberi semua dedikasiku untuk jadi mahasiswa sejati yang tidak hanya bebas namun lebih peduli.

Surabaya, 10 Mei 2016
Sam Pangestu

#staffmagangPSDMHimatekpal